Sunan Giri, penerus Sunan Ampel & otak penyerangan ke Majapahit

15 Juli 2015 09:19 © 2015 merdeka.com

Setelah Sunan Ampel alias Raden Rahmat wafat Tahun 1478, jabatan wali mufti dalam Dewan Wali atau Wali Songo, diserahkan ke Sunan Giri. Putra dari Syekh Maulana Ishak ini, menjadi penentu kebijakan di Kerajaan Demak Bintoro, termasuk mengeluarkan fatwa penyerangan ke Majapahit.

Semasa remajanya, Sunan Giri yang memiliki nama asli Raden Paku dititipkan oleh ibu angkatnya, Nyai Ageng Pinatih kepada Sunan Ampel. Bersama Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Raden Patah, dia digembleng ilmu agama di Ampel Denta, Surabaya, Jawa Timur.

Setelah ilmu agamanya dianggap cukup, Raden Paku pergi ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas. Diapun digelari Sunan Giri dan menjadi anggota Dewan Wali.

Dalam struktur Dewan Wali yang dikenal Wali Songo, Sunan Ampel menjadi sesepuh sekaligus wali mufti, sang penentu kebijakan. Namun setelah Sunan Ampel wafat, jabatan itu diserahkan kepada Sunan Giri.

Sejak saat itu, Sunan Giri menjadi penasehat Kerajaan Demak Bintoro. Sementara urusan politik kerajaan, diserahkan kepada Raden Mas Sahid atau Sunan Kalijaga.

"Tak hanya diangkat sebagai mufti, Kerajaan Demak juga memberi kekuasaan penuh pada Sunan Giri untuk membangun pemerintahannya sendiri di Giri Kedaton. Sunan Giri digelari Prabu Satmoto, penguasa Giri Kedaton," terang Wakil Ketua Yayasan Makam Sunan Giri, Sobirin kepada merdeka.com, Rabu (15/7).

Giri Kedaton, lanjut dia, akhirnya menjadi salah satu pusat penyebaran Agama Islam di Jawa. "Pengaruhnya menyebar luas hingga ke Madura, Lombok, Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi," katanya.

Selama memerintah Giri Kedaton dan menjadi mufti, sikap Sunan Giri cukup keras terhadap Majapahit. Bahkan, dia pernah ikut menentang fatwa Sunan Ampel agar Demak Bintoro tidak memberontak pada Majapahit.

Namun setelah Sunan Ampel wafat, dan Sunan Giri menjadi mufti, sikap keras yang dulu ditahan karena fatwa Sunan Ampel, kembali meledak. Dia memerintahkan Raden Patah menyerang Majapahit.

Alasannya, di Tahun 1478, Majapahit diserang Prabu Ranawijaya dan memindahkan pusat pemerintahan di Daha. Atas peristiwa pemberontakan ini, maka Sunan Giri menganggap tepat memberi fatwa pada Demak untuk menyerang Majapahit.

Sunan Giri menganggap, Raden Patah adalah pewaris sah Majapahit karena Raden Patah adalah anak kandung dari Prabu Brawijaya V, atau Bhre Kertabhumi yang tewas dalam pemberontakan Ranawijaya.

"Tapi sebelum dilakukan penyerangan, Ranawijaya tewas dibunuh oleh Prabu Udara yang juga penguasa Majapahit di Trowulan, Mojokerto, di Tahun 1498," ungkap Ahmad Fatis Suud, warga Giri, Kecamatan Kebomas.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU