Kanji rumbi jadi primadona warga Aceh kala berbuka puasa

2 Juni 2017 11:30 © 2017 merdeka.com

Harum semerbak tercium saat memasuki pekarangan Masjid Al Furqan, Gampong Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Wangi rempah-rempah itu berasal dari dua kuali besar di belakang masjid, berjarak sekitar 100 meter dari halaman depan.

Asap mengepul mengeluarkan semerbak wewangian khas berasal dari kanji rumba yang sedang dimasak. Makanan khas Aceh yang diracik bersama rempah-rempah ini, memiliki rasa yang lezat dan dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan.

Dua pemuda asal Simeulue sibuk mengaduk-aduk kanji rumba dalam kuali besar menggunakan sebilah kayu tipis sepanjang 4 meter. Beberapa kali kedua pemuda ini harus berpindah tempat, karena berubah mata angin hingga membuat mata mereka perih terkena asap. Peluh pun membasahi dahi, baju basah karena cucuran keringat.

Sedangkan satu orang lagi, Budi Darma (46) yang sudah 5 tahun terakhir memasak kanji rumba mengawasi kedua pemuda tersebut. Budi Darma yang akrap disapa Bang Agam bertugas memastikan semua bumbu kanji rumbi dimasukkan sesuai dengan urutan. Termasuk memastikan rasa kanji rumbi gurih dan rasa yang lezat.

Sekilas kanji rumbu tampilannya seperti bubur ayam. Makanan khas Aceh ini memiliki tekstur lembut dan diolah berbahan dasar beras dan santan menjadi primadona selama Ramadan.


Akan tetapi, ini bukanlah bubur ayam, tetapi kanji rumbi diracik dengan rempah-rempah alami dengan komposisi antara lain, wortel, kentang, daun sop, bawang dan juga semakin gurih bila tambah udang atau daging ayam.

"Semua itu dicincang dan kemudian dimasakkan bersamaan," kata Bang Agam di Banda Aceh, Kamis (1/6).

Memasak kanji rumbi dalam jumlah besar bukan perkara mudah. Butuh keahlian khusus dan tidak semua dimiliki warga Aceh. Bang Agam, sudah turun temurun generasi ketiga memasak kanji rumbi di Masjid Al Furqan. Ia sudah sangat lihai dalam mengolah.

Saban hari panitia masjid memasak kanji rumbi untuk menu berbuka puasa di masjid tersebut. Dua kuali besar itu cukup untuk kebutuhan 400 sampai 500 orang berbuka puasa.

Biasanya, kanji rumbi yang sudah dimasak itu akan dibagikan untuk warga gampong (desa) satu kuali. Yang mengambil kanji rumbi itu pun tanpa mengenal kasta, baik si kaya dan miskin diperbolehkan membawa pulang kanji rumbi ke rumah. Sedangkan satu kuali lagi untuk kebutuhan warga yang berbuka puasa di masjid.

Bang Agam mengaku, persiapan memasak kanji rumbi itu sejak pagi sekira pukul 09.00 WIB. Bang Agam beserta dua rekannya mulai mencincang-cincang beberapa rempah-rempah. Baru kemudian mulai memasak sekitar pukul 14.00 WIB dan masak pada pukul 16.00 WIB.


"Setelah salat asar, baru warga membawa mangkok ukuran setengah kilogram untuk ambil kanji dibawa pulang ke rumah," jelasnya.

Bang Agam yang sudah sangat paham membuat kanji rumbi mengaku, makanan ini selain memiliki rasa yang gurih dan membuat ketagihan siapapun yang mencicipinya. Selain itu, kanji rumbi juga bagus buat kesehatan, khususnya pencernaan.

"Bagus untuk kesehatan, karena bahannya mudah dicerna saat kita makan," jelasnya.

Memasak kanji rumbi ini memang sudah menjadi tradisi di Aceh selama bulan Ramadan. Seakan-akan, kanji rumbi menjadi menu wajib dimasak secara bersama di masjid-masjid setiap gampong. Tradisi semangat kebersamaan ini terus masih terpelihara hingga sekarang.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU