Kisah Maryam dilahirkan hingga punya anak tanpa suami

12 Juni 2016 17:42 © 2016 merdeka.com

Sepanjang sejarah, Islam telah memiliki banyak tauladan wanita yang tidak diragukan lagi kesucian dan rupawannya. Salah satu di antaranya Siti Maryam. Maryam sapaannya terlahir dari seorang ibu bernama Hannah binti Faqudz (saudara ipar Nabi Zakaria) dan ayahnya bernama Imran seorang tokoh dari Ulama Bani Israel.

Wanita terbaik sepanjang zaman ini dilahirkan setelah melalui proses yang sangat panjang. Sebab, Hannah binti Faqudz sempat divonis mandul. Namun, harapan untuk memiliki anak tak pernah sirna.

Bertahun tahun menjalani kehidupan bersama Imran, Hannah binti Faqudz telah melakukan berbagai cara untuk memperoleh anak, akan tetapi tak pernah tercapai. Dia akhirnya mengandung setelah bernazar (berjanji) kepada Allah bila permohonannya dikabulkan, akan menyerahkan dan menghibahkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk menjadi pelayan, penjaga dan memelihara Rumah Suci (Bait Allah).

Siapa duga, menjelang masa kelahiran, Imran meninggal dunia. Hannah binti Faqudz harus melahirkan seorang diri tanpa didampingi suami. Kekecewaan juga menerpa saat terlahir bayi perempuan karena Hannah menginginkan seorang putra untuk dihibahkan kepada Baitul Maqdis.

"Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan seorang putri, sedangkan aku bernazar akan menyerahkan seorang putra yang lebih layak menjadi pelayan dan pengurus Baitul Maqdis," ujar Hannah binti Faqudz kala itu.

Maryam terlahir sebagai anak yatim. Meski demikian, banyak ahli ibadah di Baitul Maqdis yang ingin mengasuhnya. Hal ini bisa diketahui saat Hannah binti Faqudz membawa Maryam ke Baitul Maqdis.

"Aku serahkan anakku ini kepada tuannya. Sebelum ini aku sudah bernazar untuk menyerahkan anakku menjadi hamba abdi di rumah suci ini," kata Hannah kepada para pendeta.

Pendeta yang berada di lokasi itu berebut ingin mengasuh Maryam. Tapi di antara mereka tidak ada yang mau mengalah. Mereka pun sepakat menggelar permainan membuang pensil masing-masing ke dalam sungai. Pensil siapa yang tidak tenggelam, maka dialah yang berhak menjaga Maryam. Permainan tersebut akhirnya dimenangkan Nabi Zakaria yang pensilnya tidak tenggelam.

Maryam menjalani hari-harinya di bawah asuhan Nabi Zakaria. Maryam tumbuh menjadi gadis yang taat beribadah. Tidak hanya taat beribadah, Maryam pandai menjaga pergaulan dengan tidak sembarang berdekatan dengan pria yang bukan mahramnya.

Maryam tidak terbuai dengan ketampanan pria. Manakala ada pria yang mendekatinya, dia selalu berdoa kepada Allah agar dilindungi dari hal-hal yang buruk.

Pada suatu hari, Maryam terkejut saat tengah bertasbih. Dia melihat seorang pria berdiri di hadapannya. Ini pertama kali Maryam berada di hadapan pria lain selain Nabi Zakaria. Pria itu ternyata Malaikat Jibril.

"Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci," ujar Malaikat Jibril.

"Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina," jawab Maryam.

Allah kemudian berfirman dengan perantaraan Jibril, "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya "Jadilah", lalu jadilah dia,". (QS Ali Imran, 42-47).

Setelah kedatangan Malaikat Jibril, Maryam kemudian hamil. Saat kehamilam Maryam semakin membesar, orang pertama yang mengetahui adalah Yusuf bin Ya'kub an-Najjar, seorang ahli ibadah bani israil. Yusuf sempat terkejut karena dia mengetahui bahwa Maryam merupakan gadis yang taat ibadah dan sangat menjaga kesuciannya.

Sekuat apa pun menyembunyikan kehamilan dari masyarakat tetap akan diketahui. Maryam mendapat tuduhan atas kehamilan tanpa suami. Saat melahirkan putranya Isa Almasih, berbagai tuduhan zina datang silih berganti.

Maryam tak ingin menjawab tudingan tersebut. Dia pun mengisyaratkan agar orang-orang yang menudingnya berzina langsung bertanya kepada Isa Almasih yang saat itu digendongnya.

"Bagaimana mungkin kami berbicara dengan seorang anak bayi yang baru di lahirkan."

Atas izin Allah, Isa Almasih tiba-tiba berbicara sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah.

"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, dia memberiku Al-kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang Nabi, dan dia menjadikan aku seorang yang di berkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku di lahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku di bangkitkan hidup kembali,". (QS Maryam: 30-33).

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU