Kesabaran Nabi Ayub ditimpa penyakit hingga ditinggal oleh istri

10 Juni 2016 04:15 © 2016 merdeka.com

Nabi Ayub terkenal sabar dan penyayang. Karena dua sifat baik yang dimilikinya, Allah membanggakan Nabi Ayub kepada seluruh makhluk-Nya. Menanggapi bangga Allah pada Nabi Ayub, setan yang berjiwa pembangkang tentu membantah dan menantang Allah dengan mengatakan, "Allah, Engkau tidak perlu membanggakan Ayub Mu. Dia sabar hati dan baik budi karena hidup serba kecukupan. Saya sangsi apakah Ayub tetap memperlihatkan sikap terpuji jika Engkau menimpakan ujian kemelaratan dan kenistaan," ucap setan kepada Allah, dikutip dari buku Kisah Orang-orang Sabar, karya Nasiruddin.

Mendapat kesangsian dari setan, Allah lantas membuktikan keutamaan makhluk Nya. Nabi Ayub yang semula kaya raya dibangkrutkan oleh Allah. Ayub yang semula mempunyai banyak putra, satu persatu dicabut nyawanya hingga tidak tersisa.

Nabi Ayub yang semula gagah, sehat, ditimpa penyakit yang tidak ada obatnya. Bahkan lebih memprihatinkan, badan Nabi Ayub membusuk sehingga banyak belatung menempel di tubuhnya. Istri-istrinya, satu persatu meninggalkannya. Hanya satu yang setia justru paling cantik di antara semua.

Lebih miris lagi, Nabi Ayub diasingkan masyarakat yang awalnya memuja dan menghormatinya. Kemudian dia hidup terpencil di sebuah gua.

Dalam kondisi seperti itu, Nabi Ayub tetap ingat dan patuh kepada Allah. Dia selalu rajin berdoa meminta kesembuhan dan ketabahan menerima segala ujian hidup. Setiap kali akan salat, dia mencabut puluhan belatung yang menempel di lukanya. Meski begitu, Nabi Ayub tak pernah membunuh belatung-belatung itu. Karena pantang baginya membunuh sesama makhluk ciptaan Allah.

Suatu hari Nabi Ayub dan istrinya tak memiliki apa pun untuk di makan. Mereka kelaparan, namun tetap tawakal dan bersabar. Tapi, istrinya semakin tak tega melihat Nabi Ayub semakin parah. Istri setia itu kemudian ke pasar untuk menjual rambutnya agar dapat membeli makanan.

Nabi Ayub tidak gembira apa yang telah dilakukan istrinya. Justru dia malah marah karena istrinya telah menyalahi hukum Allah dengan menjual rambut demi makanan. Nabi Ayub bersumpah, bila Allah memberi kesembuhan dia akan menghukum istrinya mencambuk 100 kali.

Nabi Ayub kemudian diberi kesembuhan dan lulus ujian. Lalu dia ingin melaksanakan sumpahnya itu menghukum istrinya. Akan tapi karena mengingat ketulusan dan kesalehan si wanita, Allah yang maha penyayang mengajari bagaimana menghukum tanpa menyakiti. Caranya, 100 lidi diikat menjadi sapu lantas dipukulkan dengan keras. Ini berarti telah memukul 100 kali sekaligus.

Inilah yang dicontohkan Nabi Ayub. Semua ujian dan cobaan tidak menggoyahkan sedikitpun iman dan kesabarannya.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU