Said bin Amir, pemimpin sederhana yang utamakan rakyat & Allah SWT

21 Juni 2017 18:00 © 2017 merdeka.com

Said bin Amir ialah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang utama. Dia sangat bertakwa dan tidak menonjolkan diri. Said memeluk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Sejak itu, dia selalu menyertai Rasulullah dalam setiap perjuangan dan jihad.

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, Said dipilih sebagai Pemimpin Kota Homs. Pada awalnya, Said menolak jabatan tersebut. Namin Khalifah Umar tetap memaksa dan meyakinkan lantaran Umar yakin sekali dengan pilihannya. Oleh sebab itu, Said berangkat ditemani istrinya.

Selama menjadi pemimpin dia adil dan selalu memberi teladan baik kepada rakyatnya. Warga Homs pun menaati dan menghormati Said. Kendati banyak warga yang cinta, tapi ada juga yang mengeluhkan kepemimpinan Said.

Sampai suatu hari saat Khalifah Umar berkunjung ke Homs dia bertanya kepada warga yang tengah berkumpul. "Bagaimana pendapat kalian tentang Said," tanya Khalifah Umar. Dikutip dari buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul tulisan Ummu Akbar.

Ketika itu warga mengeluhkan empat hal dari kepemimpinan Said. "Dia baru ke luar menemui kami setelah matahari tinggi. Dia tidak melayani seorang pun di malam hari. Setiap bulan, ada dua hari yang tidak keluar menemui kami. Satu lagi yang sebetulnya bukan kesalahannya, tapi mengganggu kami sewaktu-waktu dia jatuh pingsan," kata penduduk.

Umar tertunduk merenungkan ucapan warga Homs. Lalu dia berdoa. "Ya Allah, hamba tahu bahwa Said adalah hamba Mu yang baik maka hamba harap firasat terhadap dirinya tidak meleset," katanya.

Kemudian Umar menemu Said untuk menanyakan hal tersebut. "Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tidak ke luar sebelum matahari tinggi, demi Allah sebetulnya saya tak ingin menyebutkannya. Keluarga kami tak mempunyai pelayan, maka sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram. Lalu saya membuat roti. Kemudian saya berwudhu untuk salat duha. Setelah itu barulah saya keluar menemui mereka," ujar Said.

"Adapun tuduhan mereka bahwa saya tidak menemui warga di waktu malam, demi Allah, saya benci menyebutkan sebabnya. Saya menyediakan siang hari bagi mereka dan menyediakan malam hari bagi Allah SWT," jelas Said

"Mengenai ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan saya tidak menemui mereka. Sebabnya sama seperti yang saya katakan tadi. Saya tidak mempunyai pelayan untuk menyucikan pakaian sedangkan pakaian saya tidak banyak. Jadi, terpaksa saya mencucinya dan menunggu hingga kering. Saya baru dapat ke luar di waktu petang," lanjut dia.

"Kemudian tentang keluhan mereka bahwa sewaktu-waktu saya jatuh pingsan itu sebabnya adalah ketika di Mekkah dulu, saya menyaksikan tersungkurnya Khubaib Al Anshari. Dia disiksa oleh orang Quraisy dan mereka membawanya dengan tandu sambil bertanya, 'maukah tempatmu diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sementara kamu berada di sehat walafiat?' Jawab Khubaib, 'Demi Allah, aku tak ingin berada di lingkungan yang anak istriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia, sementara Rasulullah ditimpa bencana walaupun hanya tusukan duri.' Setiap terkenang peristiwa itu, tubuh saya gemetar karena takut azab Allah. Ketika itu, saya masih dalam keadaan musyrik. Saya teringat bagaimana saya berpangku tangan tak melakukan pertolongan kepada Khubaib," jelas Said sambil berlinang air mata.

Mendengar penjelasan Said, Umar terharu karena firasatnya tidak meleset.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU