Kisah ketulusan Haji Sangkala biayai panti asuhan dari jual angkot

21 Juni 2017 05:01 © 2017 merdeka.com

Salah satu kebahagiaan orangtua adalah bisa menyaksikan anak yang dirawatnya bisa hidup sukses dan mandiri ketika dewasa. Hal itulah yang dirasakan Haji Sangkala (64), pengasuh panti asuhan Usamah di Jl Andi Tonro IV, Makassar.

Sejak 21 tahun lalu, dia membina anak-anak panti asuhan yang banyak berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Kini anak-anak asuhnya itu sudah banyak yang sukses.

"Anak panti sini ada namanya Suardi Baso, kini sudah jadi kepala Puskesmas di Kabupaten Mamuju Utara di Propinsi Sulbar. Ada juga namanya Khaerunnisa, seorang bidan di sana," kata Haji Sangkala yang berlatar belakang guru di sekolah-sekolah swasta kala mudanya ini, Selasa (20/6).

Selain itu, kata Haji Sangkala, ada juga anak asuhnya yang kembali ke tanah kelahirannya di Flores menjadi guru dan PNS. Ada juga yang menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Makassar dan bidan di Kabupaten Bulukumba.

Bapak empat anak yang tiga di antaranya sudah mandiri dan berkeluarga itu mengatakan, panti asuhan yang dikelolanya sejak tahun 1996 itu tidak punya donator tetap. Dia mengatakan anak-anak asuh yang pernah bersamanya itulah kini yang sesekali mengalirkan bantuan baik berupa uang tunai maupun bahan-bahan pokok.

"Iya, anak-anak panti asuhan yang sukses itu biasa bantu kita di sini. Mereka kasih uang atau sembako," tuturnya.

Haji Sangkala dibantu istrinya, Hajjah Jusni, mengelola panti asuhan Usamah berawal saat ada orang dari PT Hartaco yang meminta bantuannya untuk mengelola panti asuhan Al Khaerat. Anak asuhnya ada 70 orang dan semua berasal dari Timor Timur. Ada sementara anak yang ditolak karena sudah melebihi kapasitas.

"Akhirnya yang anak itu saya ambil, bawa di rumah. Kemudian ada anak tetangga 10 orang sudah yatim sekalian saya ambil dan rawat bersama," kata Haji Sangkala.

Saat itu Haji Sangkala adalah seorang guru swasta yang mengajar di beberapa sekolah seperti SMP dan SMA Muhammadiyah Mariso, Muallimin Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah Cambayya. Dia juga memiliki tiga unit mobil angkot yang tiap hari ditarik beberapa sopir.

Dari gaji seorang guru dan setoran tiga angkot itulah Haji Sangkala menghidupi anak-anak asuhnya yang kian hari bertambah hingga 94 orang. Apa yang Haji Sangkala dan keluarganya makan itu pula yang dimakan anak-anak asuhnya.

Menurutnya, menghidupi keluarga dan anak-anak panti yang hampir berjumlah 100 orang itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit tapi dia yakin rezeki itu selalu ada. Tiap orang pasti ada rezekinya.

Pada tahun 2001 panti asuhan yang diberi nama panti asuhan Usamah ini didaftarkan secara resmi berdasarkan permintaan Pemerintah Kota Makassar. Diberi nama Usama, terinspirasi dari seorang panglima perang di zaman Rasulullah, Usamah bin Said. Di usia 16 tahun sudah diangkat menjadi panglima perang oleh Rasul, dia adalah seorang anak yatim piatu.

"Saya ingin menanamkan kepada anak-anak, meski yatim piatu tetap harus kuat olehnya dalam mendidikan saya utamakan ibadahnya anak-anak seperti salat Dhuha, salat lail, puasa Senin Kamis. Saya juga dari kecil adalah seorang yatim piatu dari Kabupaten Bulukumba, merantau sendiri ke Makassar sekolah di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA). Belajar juga dari pengalaman hidup, saya ajarkan anak-anak terbiasa hidup susah. Tapi sekolah dan ibadah tidak boleh dilupakan," kenang Haji Sangkala.

Karena jumlah anak asuh yang kian banyak, Haji Sangkala kemudian memilih untuk menjual tiga unit angkotnya demi membangun panti asuhan yang tadinya berupa rumah panggung menjadi rumah permanen. Jual angkot jadi keputusannya karena memang tidak ada donator tetap dan dia juga pantang sebar-sebar proposal apalagi harus melibatkan anak-anak panti asuhan.

Jika di panti asuhan lain membatasi tingkatan sekolah anak asuhnya hingga tingkat SMA, Haji Sangkala membiarkan anak-anak asuhnya tetap tinggal di panti jika masih ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang perguruan tinggi. Rata-rata anak panti asuhan Usamah kuliah di Universitas Muhammadiyah dan Universitas Indonesia Timur dan STIE YPUP dengan catatan mau bersungguh-sungguh belajar.

"Tempatnya anak-anak kuliah itu untungnya memberikan keringanan. Uang kuliah bisa dicicil," ujar Haji Sangkala.

Alhasil, rata-rata anak panti asuhan Usamah ini pun berhasil dalam pendidikannya. Mereka kemudian keluar, hidup mandiri dengan keluarganya masing-masing.

Kini jumlah anak panti asuhan Usamah ada 52 orang. Mereka berasal dari Flores Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Sinjai, Jeneponto, Bulukumba dan Kabupaten Polewali Mandar.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU