Tradisi bermain petasan bambu sambut Selikuran Ramadan di Gunungkidul

6 Juni 2018 22:30 © 2018 merdeka.com

Menyambut hari ke 21 Ramadan atau dalam bahasa Jawa disebut selikuran, warga di Dusun Beji dan Dusun Belok, Desa Beji, Kecamatan Patuk, Gunungkidul memiliki tradisi unik. Tradisi unik ini adalah dengan menggelar kenduri dan menyalakan petasan bambu (long bumbung). Tradisi menyalakan long bumbung ini oleh warga setempat disebut dengan bumbung selikur.

Memulai tradisi bumbung selikur, puluhan warga dari Dusun Beji dan Dusun Jelok berkumpul di Joglo Wulenpari yang didirikan di tengah area persawahan. Mereka membawa nasi uduk dan nasi ingkung untuk berbuka puasa.

Sembari menunggu saat berbuka puasa, puluhan remaja dan orang dewasa dari dua dusun ini memersiapkan sejumlah long bumbung di pinggir Sungai Oya. Long bumbung ini dibuat dari bahan bambu sepanjang lebih dari satu meter dan di bagian belakangnya dilubangi untuk dipasangi sumbu.

Tak lama kemudian, long bumbung pun dinyalakan. Suara menggelegar pun bersahutan silih berganti diiringi suara tawa dari warga. Sesekali suara saling ejek bernada canda keluar saat long bumbung ada yang gagal meledak.

Permainan long bumbung ini baru berhenti saat adzan Maghrib berkumandang. Usai mendengar suara adzan Maghrib, warga pun berkumpul dan duduk melingkar di pendopo Joglo Wulenpari. Dipimpin oleh salah seorang sesepuh desa, mereka pun berdoa bersama dan sesudahnya menyantap nasi kenduri dan nasi ingkung.

Kepala Desa Beji, Edi Sutrisno menuturkan tradisi kenduri dan menyalakan long bumbung ini merupakan tradisi turun menurut di daerahnya. Tradisi ini rutin digelar setiap menyambut selikuran atau 21 Ramadan.

"Tradisi ini sebagai penanda masuk ke 21 Ramadan atau selikuran. Tradisi ini juga memiliki tujuan untuk menyambut malam Lailatul Qadar yang dalam kepercayaan Islam merupakan malam paling agung dalam bulan suci Ramadan. Kemuliaannya (malam Lailatul Qadar) sama dengan malam 1000 bulan," ujar Edi, Selasa (5/6) malam.

Edi menambahkan tradisi menyambut 21 Ramadan ini biasanya digelar bergantian di Dusun Beji dan Dusun Belok. Jika tahun ini digelar di Dusun Belok maka tahun depan akan digelar di Dusun Beji.

"Penyalaan long bumbung dalam falsafah Jawa memiliki makna sebagai penanda untuk semakin meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan pada 10 hari terakhir Ramadan. Tradisi ini juga dijadikan penanda masuknya tanggal 21 Ramadan," kata Edi.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU