Terkuak, misteri penyakit yang renggut nyawa pemimpin Islam Saladin

7 Mei 2018 14:18 © 2018 merdeka.com

Saladin terkenal sebagai sultan yang menyatukan dunia Muslim pada abad ke-12. Ia berhasil merebut kembali Yerusalem, yang memicu terjadinya Perang Salib Ketiga.

Dia kemudian meninggal setelah sebuah penyakit misterius menyerang tubuhnya. Para ahli kemudian menganalisis gejala-gejala penyakit Saladin berdasarkan data yang ditulis lebih dari 800 tahun yang lalu.

Seorang profesor kedokteran dari University of Pennsylvania's Perelman School of Medicine, Amerika Serikat, Stephen Gluckman mengungkapkan, tifus adalah penyakit yang membunuh Saladin.

"Diagnosis pasti mungkin tidak akan pernah diketahui karena Saladin hidup sebelum zaman alat diagnostik penyakit modern muncul. Tifus tampaknya sesuai perkiraan yang jadi penyebabnya. Penyakit ini masuk ke tubuh setelah seseorang menelan makanan atau air yang terkontaminasi dengan bakteri Salmonella typhi," kata Gluckman, dikutip dari Live Science, Minggu (6/5/2018).

Tifus yang dialami Saladin baru saja diumumkan pada 4 Mei 2018 dalam sesi Konferensi Klinopatologi Tahunan ke-25 di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland.

Para ahli yang hadir dalam konferensi itu mendiagnosis kematian para tokoh sejarah dunia. Diagnosis kematian Lenin, Darwin, Eleanor Roosevelt, dan Lincoln pun dibahas pada konferensi tersebut.

Pemimpin Muslim terpenting

Saladin adalah sosok yang berperan penting dalam sejarah Eropa dan Timur Tengah. Seorang profesor sejarah abad pertengahan di Queen Mary University of London, Tom Asbridge mengungkapkan, Saladin termasuk salah satu pemimpin Muslim terpenting di era Perang Salib pada Abad Pertengahan.

Mantan Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser (1918-1970) bahkan terobsesi dengan Saladin. Saladin, lahir sekitar tahun 1137 atau 1138 di Tikrit--lokasi yang sekarang menjadi Irak. Ia berasal dari keluarga Kurdi sewaan (yang bekerja hanya demi uang).

Jejak perjuangannya terlihat saat Saladin dan pamannya, seorang pemimpin militer, melawan Kekhalifahan Mesir Fatimiyah, sebuah dinasti keagamaan yang memerintah dari tahun 909 hingga 1171.

Setelah pamannya meninggal pada tahun 1169, Saladin menggantikan kedudukan pamannya menjadi pemimpin militer. Pada waktu itu, Saladin berusia 31 atau 32 tahun. Menang dalam pertempuran, Saladin ditunjuk sebagai komandan pasukan Suriah di Mesir, menurut Encyclopedia Britannica.

Pada 1187, tentara Saladin berhasil menaklukkan kota suci Yerusalem dan mengusir kaum Frank, yang mengambil Yerusalem 88 tahun sebelumnya pada Perang Salib Pertama. Tindakannya ini menyebabkan Perang Salib Ketiga terjadi pada tahun 1189 sampai 1192.

Setahun kemudian (1193), Saladin mengalami demam tanpa diketahui penyakitnya. Ia hanya bertahan selama dua minggu melawan penyakit itu. Ia meninggal pada usia 55 atau 56 tahun.

Gluckman punya beberapa rincian untuk membuat diagnosis. Wabah atau cacar mungkin bukan penyebab Saladin meninggal. Ini penyakit itu membunuh orang dengan cepat. Bukan pula tuberkulosis (TBC) karena catatan tidak menyebutkan Saladin didera masalah pernapasan.

Gejala yang dialami Saladin cocok dengan gejala tifus, yang ditandai demam tinggi, lemah, sakit perut, sakit kepala, dan kehilangan nafsu makan.

Reporter:Fitri Haryanti Harsono

Sumber: Liputan6.com

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU