Lelaku hidup masyarakat Islam Aboge

29 Mei 2018 12:00 © 2018 merdeka.com

Ki Banakeling mempunyai tempat istimewa bagi masyarakat adat Banakeling di Kabupaten Banyumas maupun di Kabupaten Cilacap. Tiap tahun, satu minggu sebelum memasuki bulan puasa, diadakan perlon unggahan atau ziarah akbar ke makam Ki Banakeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Di hari itu, ribuan orang berkumpul berpakaian adat dan tergabung dalam iring-iringan panjang untuk berziarah.

Begitu pula Mbah Mustolih mendapat tempat yang khas bagi masyarakat Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Masjid Saka tunggal yang dimungkinkan dibangun pada tahun 1288 di Desa Cikakak menunjuk Mbah Mustolih sebagai pendirinya. Dia dianggap memiliki kelebihan karena kesalehannya, salah satunya pahit lidah yakni apa yang dikatakan jadi kenyataan.

Sedang di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Raden Sayyid Kuning juga punya kedudukan spesial dalam hati masyarakat. Dia adalah simbol spiritual yang menjadi bagian cikal bakal terbentuknya Kabupaten Purbalingga. Raden Sayyid Kuning adalah menantu Adipati Onje II, priyayi keturunan Kerajaan Pajang yang memimpin pemerintahan di Purbalingga lama abad ke-16.

Ketiga tokoh tersebut dianggap sebagai perintis syiar Islam di Jawa. Kesamaan yang lain, ketiganya mengenalkan sistem penanggalan Jawa yakni Aboge akronim dari alif, rebo, wage. Penanggalan tersebut, jadi pedoman untuk menentukan hari besar agama, hari baik untuk bertani, menikah dan sebagainya. Sebab itu, komunitas masyarakat yang mempraktikkan sistem penanggalan tersebut kerap disebut sebagai Islam Aboge.

Laku komunitas Islam Aboge tak hanya menyangkut sisi kebatinan semata. Tapi juga olah rasa mengembangkan diri dalam aspek sosial. Baik aspek kebatinan serta sosial tersebut jadi bagian kearifan lokal komunitas Islam Aboge yang tersimpan di balik kisah keteladanan para ulama, tradisi sampai benda-benda sakral.

Rajah Keselamatan di Tanah Onje

Di ruang utama masjid R Sayyid Kuning, berdiri tegak empat saka guru masjid terbuat dari tatal kayu jati. Konon, saka-saka tersebut didirikan langsung oleh Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga pada tahun 1500. Dua ratus tahun sebelumnya, di area yang sama, berdiri tempat peribadatan semi permanen dari pohon pakis yang dibangun oleh Syekh Syamsudin, ulama dari Timur Tengah.

"Tanah di desa Onje ini, awalnya jadi tempat untuk memasang rajah (azimat, penolak bala) untuk keselamatan masyarakat pulau Jawa yang tengah alami pagebluk," kata Kyai Maksudi, sesepuh Islam Aboge di Desa Onje saat ditemui Merdeka.com, Rabu (23/5).

Sesepuh Islam Aboge di desa Onje ©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid



Menurut Kyai Maksudi, lokasi pemasangan rajah tersebut berada di dekat tempuran, pertemuan arus tiga sungai. Pemilihan lokasi itu berasal dari pesan gaib yang didapat oleh Syekh Syamsudin. "Syekh lantas melakukan salat tahajud di lokasi yang ia pilih," katanya.

Dimungkinkan, lokasi masjid Sayyid Kuning adalah lokasi pemasangan rajah tersebut. Pasalnya, tak jauh dari masjid terdapat Jojok Telu, pertemuan tiga sungai di Purbalinga yakni Tlahab, Paku dan Pingen. "Tahun 1700, area tersebut mulai didiami masyarakat. Sejarahnya panjang bisa dua hari dua malam diceritakan,” ujar Kyai Maksudi.

Lantas dia memperpendek cerita, "masjid yang dahulu didirikan oleh empat wali sekaligus lokasi rajah itu, direnovasi oleh Sayyid Kuning. Dia seorang ulama menantu Adipati Onje II, priyayi keturunan Kerajaan Pajang yang memimpin pemerintahan di Desa Onje seluas 875 grumbul," kata Kyai Maksudi.

Sampai saat ini, masih disimpan dengan baik peninggalan benda-benda milik Raden Sayyid Kuning. Salah satunya beduk berjuluk Duren Siklambi. Dipercaya, setiap 1 Syawal beduk akan berbunyi tanpa diketahui penabuhnya. Selain itu, ada pula tongkat khutbah milik Sayyid Kuning yang disakralkan.

"Percaya atau tidak, tongkat ini selalu jatuh bila digenggam oleh mereka yang mengaku ulama tapi dalam hatinya busuk," ujarnya.

Memaknai keberadaan Masjid Sayid Kuning dan sejarahnya, menurut Kyai Maksudi bahwa di balik ujaran-ujaran kebaikan juga mesti dijalankan tindakan-tindakan yang sesuai. Akhir-akhir ini misalnya, mudah didapati seseorang atau sekelompok orang yang mengaku beragama tetapi mendesakkan diri dengan keyakinan yang berlebihan. Tak jarang mereka yang mengaku beriman lantas saling berhantaman untuk sedikit perbedaan. Padahal salah satu tindakan kebaikan di tengah kenyataan berbagai etnik, ras dengan kepercayaan berbeda-beda, yakni mengupayakan pembauran tanpa saling menyakiti.

"Kita misalnya mempertahankan perhitungan Aboge untuk menentukan bulan puasa dan Idul Fitri. Ada hasil perhitungan yang berbeda dengan masyarakat muslim yang lain. Tapi perbedaan ini jangan dipertentangkan dan diperuncing jadi konflik," kata Kyai Maksudi.

Spiritualitas Padi Masyarakat Banakeling

Penanggalan Jawa Aboge dimanfaatkan untuk menentukan segala kegiatan adat bagi masyarakat Banakeling. Sistem penanggalan yang terbagi dalam kurun waktu sewindu dan hari pasaran tersebut, sudah sedemikian lama berlaku dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Banakeling. Berbagai kegiatan ritual pada umumnya berisi selametan.

Ketua komunitas adat trah Banakeling, Ki Sumitro menerangkan tradisi selametan yang dilakukan berkaitan dengan siklus kehidupan manusia. Rinciannya mulai dari kandungan (mitoni, tujuh bulanan), kelahiran (puput puser), menyentuh tanah atau berjalan (tedhak siten), pernikahan, sampai upacara kematian. Selain itu selametan juga dilakukan terkait hari besar yakni perlon (keperluan) unggahan (menyambut bulan puasa), udunan (merayakan Idul Fitri) Apit sedekah bumi (pasca panen) sampai besaran (hari raya Idul Adha).

Dalam tradisi selametan, secara simbolik butir-butir padi menjadi bagian utama ritus. Ki Sumitro memberi contoh, dalam selametan mitoni empat iket gabah digotong oleh orang tua menunjukkan harapan perilaku pada jabang bayi. Semakin tumbuh dewasa dan menguasai banyak ilmu pengetahuan, manusia diharapkan semakin menunduk layaknya padi.

Sedang butiran-butiran padi yang disebarkan di areal makam menyimbolkan kefanaan. Sehebat-hebatnya manusia pada akhirnya tak bisa menolak kembali ke pangkuan alam. "Filosofi padi memang jadi spiritualitas hidup kami yang diajarkan turun temurun," kata Sumitro.

Trah bonokeling secara tradisi juga menggunakan penanggalan Aboge untuk pedoman waktu bertani. Mereka juga punya konsep menyimpan hasil pertanian, utamanya padi sebagai sistem ketahanan pangan. Di desa Pekuncen sendiri, setiap anak putu diwajibkan menabung 20 kg gabah setiap masa panen untuk disimpan dalam lumbung di tiap rukun tetangga (RT). Di lumbung-lumbung yang kini berjumlah 23 tempat, ratusan ton gabah dikelola. Peruntukannya keperluan selametan hari besar semacam perlon unggahan yang melibatkan ribuan orang sampai bantuan akses finansial bagi anak putu yang alami kesulitan uang.

"Awal mulanya, menabung gabah ini untuk simpanan menghadapi mangsa (musim) paceklik. Ini sudah berlaku sejak dahulu. Persoalan kekeringan, dulu pernah terjadi tahun 80-an. Sawah tandus, tapi anak putu gak sampai resah. Karena simpanan gabah dibagikan cuma-cuma untuk melanjutkan hidup," kata Sumitro yang merupakan ketua adat anak putu Bonokeling generasi ke-14 ini.

Pada akhirnya filosofi padi yang diambil secara simbolik jadi laku trah Banakeling adalah ekspresi spiritualitas. Spiritualitas mereka bisa disebut sebagai the spirituality of the earth yakni spiritualitas bumi. Mengutip Sindhunata dalam esai 'Pranata Mangsa Sebuah Budaya yang Terancam Punah' (Majalah Basis nomor 9-10, tahun ke-57, September-Oktober 2008) spiritualitas bumi adalah penghormatan dan apresiasi pada bumi dan alam tempat manusia hidup dan berada. Trah bonokeling telah merawat spiritualitas itu, justru ketika kemajuan di bidang industri dan teknologi menunjukkan superioritasnya di hadapan alam.

Ikatan kebersamaan di Cikakak

Empat orang muazin, berjubah panjang warna putih dan menggunakan blangkon, serentak mengumandangkan azan di dalam masjid Saka Tunggal, Jumat (25/5). Mereka mengumandangkan azan tanpa menggunakan pengeras suara. Sedang tak jauh di belakang mereka, masih di dalam masjid, satu pria berjubah panjang sesekali menabuh beduk.

Juru kunci Masjid Saka Tunggal bagian Lebak (bawah), Sulam (48) mengatakan cara mereka menandakan waktu salat semata menjaga tradisi yang dibawa oleh Mbah Mustolih, pendiri masjid Saka Tunggal. Sebagaimana para kiai sepuh di masa silam, Mbah Mustolih dipercaya memiliki kelebihan karena kesalehannya. Sehingga wajar adanya, jika ada pula cerita-cerita yang beredar bahwa masjid Saka Tunggal hanya dibangun selama semalam dengan bantuan makhluk-makhluk gaib.

"Kami disini hanya menjaga warisan Mbah Mustolih," ujar Sulam.

Juru Kunci Masjid Saka Tunggal ©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid



Menurut Sulam, selain berdakwah di desa Cikakak, Mbah Mustolih juga mengenalkan sistem penanggalan Aboge. Selain itu, juga sudah lama berlaku ritus ganti jaro masjid, yakni upacara mengganti pagar bambu yang mengelilingi Masjid Saka Tunggal setiap tanggal 26 bulan Rajab. Ritus ini melibatkan semua warga desa Cikakak yang bergotong royong membersihkan petilasan sebelum mengganti pagar makam.

"Kalau sama-sama intinya memperingan kerja yang berat. Karena memang harus cepat selesai. Kapan dilaksanakan saat bulan Rajab kami pakai perhitungan Aboge," ungkapnya.

Dalam penelitian Teguh Trianton, dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto mengatakan eksistensi Masjid Saka Tunggal bagi komunitas Islam Aboge merepresentasikan kuatnya hubungan manusia dengan sesamanya. Selain menjadi sarana ibadah, ritual ganti jaro merupakan bentuk konkret fungsi Masjid Saka Tunggal sebagai pilar hubungan manusia dengan manusia.

"Nilai-nilai kearifan di Saka Tunggal menyangkut nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan kebersahajaan," ujar Anton mengurai penelitiannya yang bertajuk 'Fungsi Antropologis Masjid Saka Tunggal'.

Dengan kebersahajaan dan kesederhaannya, komunitas Islam Aboge di Desa Cikakak memandang bahwa tradisi yang mereka jalani dari Mbah Mustolih adalah bagian hidup yang tak bisa lepas dari aturan. Kehidupan mesti dituntun, dan agar segala halangan menjadi ringan perlu laku kebersamaan. Begitulah gerak hidup masyarakat Cikakak yang ditekankan oleh Juru Kunci Sulam.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU