Cerita Mak Cao 32 tahun produksi cincau di Malang

26 Mei 2018 15:01 © 2018 merdeka.com

Nama 'Mak Cao' jauh lebih dikenal masyarakat sekitar Pasar Kebalen, Kota Malang, dibandingkan Haryati (30) atau Sunardi (62), ayahnya. 'Mak Cao' adalah sebutan untuk industri cincau yang dikelola oleh keluarga Haryati yang sudah tiga keturunan.

"Tanya Mak Cao Kebalen, gitu sudah kenal dari depan sana. Tidak ada lainnya ya cuma di sini saja," kata Haryati saat ditemui di rumahnya yang menyatu dengan pabriknya, Jalan Zaenal Zakse Gang 1 Kota Malang, Sabtu (26/5).

Lokasi Mak Cao berada di selatan Pasar Kebalen dengan lingkungan tempat tinggal yang cukup padat. Namun rumah besar dengan ornamen kuno masih bisa ditemukan di kawasan tersebut. Kawasan Kebalen sendiri tidak jauh dari Klenteng En Ang Kiong, yang sekitarnya dikenal sebagai Pecinan di Kota Malang.

Pabrik cincau di Malang ©2018 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Industri cincau rumahan Mak Cao merupakan warisan dari kakek dan nenek Hariati yang asli keturunan China. Kakeknya, Lie Chen Shui menikahi neneknya yang asli orang Jawa dan kemudian berganti-ganti mendirikan usaha, di antaranya memproduksi tahu, sabun, mie dan cincau. Tetapi yang tersisa tinggal pabrik cincau.

Pabrik Mak Cao sudah beroperasi sejak 1986 dan keluarga Haryati merupakan generasi ketiga. Hingga saat ini, keluarganya terus setia melanjutkan usaha yang mulai langka tersebut.

"Tinggal saya saja, kakak saya jadi nyopir tronton," kata anak bontot dari tiga bersaudara tersebut.

Cara dan resep leluhur masih terus dijaga oleh Hariati, karena memang sudah turun temurun. Hariati masih menggunakan blek (biasa untuk kerupuk atau minyak) sebagai cetakan cincaunya, sebagai salah satu ciri khas. Blek tersebut akan dikembalikan oleh para pembeli dan dapat digunakan lagi setelah dibersihkan.

Pabrik cincau di Malang ©2018 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Dia juga masih menggunakan kayu bakar dengan alasan bara apinya lebih kuat dan bertahan lama. Selain itu, jika menggunakan gas LPG harus mengeluarkan biaya lebih besar.

Dia memastikan, tidak ada bahan pengawet yang digunakan, sehingga rasa dan kualitas pun tetap seperti semula. Hariati mengaku tidak tertarik untuk menerapkan inovasi baru, sekalipun sekadar memberi warna lain agar lebih menarik. Katanya, warna hitam cincau yang legam justru sebagai ciri khasnya.

"Memang cincau ya gitu, rasanya juga gitu," tegasnya.

Sementara Sunardi menambahkan, kualitas produksi cincau juga ditentukan oleh bahannya atau daun cao yang diolah. Karena itu, keluarganya sengaja membeli daun cao dari Ponorogo, yang setiap 6 bulan diambil dalam jumlah besar.

Pabrik cincau di Malang ©2018 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

"Kualitasnya bagus, di sana ditanam oleh petani jadi tidak takut kehabisan kalau bahan," katanya.

Daun tersebut sudah dalam kondisi kering seperti daun teh yang dapat disimpan dalam waktu yang panjang. Tinggal dimasak di air yang mendidih sekitar tujuh jam.

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU